Ponaryo Astaman punya banyak babak penting dalam perjalanan kariernya di sepak bola Indonesia. Namun, dari semua klub yang pernah ia bela, masa bersama Sriwijaya FC menjadi salah satu bagian yang paling membekas.
Di klub berjuluk Laskar Wong Kito itu, Ponaryo untuk pertama dan satu-satunya kali merasakan gelar juara liga tertinggi Indonesia. Ia menjadi bagian dari skuad Sriwijaya FC yang meraih Indonesia Super League 2011/2012.
Kenangan tersebut disampaikan Ponaryo dalam obrolan di kanal YouTube Bola Bung Binder. Mantan gelandang Timnas Indonesia itu menilai kekuatan Sriwijaya FC saat itu bukan hanya soal kualitas individu, tetapi juga chemistry antarpemain yang sudah terbentuk sangat kuat.
Baca juga: Timnas Indonesia Tekuk Oman 3-0, Herdman Soroti Sejarah
Ponaryo Astaman dan Pencarian Gelar Juara
Ponaryo mengawali perjalanan sepak bolanya dari kecintaan sederhana pada bola sejak kecil. Ia menyebut kariernya berangkat dari hobi, lalu berkembang menjadi profesi yang dijalani dengan rasa senang.
Sepanjang kariernya, Ponaryo beberapa kali berpindah klub. Ia pernah membela PKT Bontang, PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, hingga mencicipi Liga Malaysia bersama Melaka TMFC. Setelah itu, ia juga mengakhiri karier profesionalnya di Borneo FC pada 2017.
Menurut Ponaryo, perpindahan dari satu klub ke klub lain itu tidak lepas dari keinginannya meraih pencapaian tertinggi. Gelar juara menjadi target yang terus ia kejar sampai akhirnya terwujud bersama Sriwijaya FC.
"Ingin meraih achievement yang paling tinggi gitulah, juara. Itu alasan saya kenapa beberapa kali pindah klub sampai akhirnya merasakan juara pertama kali di Sriwijaya," kata Ponaryo.
Chemistry Sriwijaya FC Sudah Seperti Otomatisasi
Bersama Sriwijaya FC, Ponaryo tidak hanya meraih gelar Indonesia Super League 2011/2012. Ia juga ikut mengangkat trofi Piala Indonesia 2010, Indonesian Community Shield 2010, serta Indonesian Inter Island Cup 2010 dan 2012.
Namun, deretan trofi bukan satu-satunya hal yang membuat periode tersebut terasa istimewa. Ponaryo juga mengingat kualitas rekan-rekannya di skuad Sriwijaya FC saat itu, termasuk Firman Utina, M. Ridwan, Mahyadi Panggabean, Lim Joon-sik, dan Keith Kayamba Gumbs.
Ponaryo menyebut banyak pemain sudah saling mengenal, terutama karena pernah bersama di Timnas Indonesia. Hal itu membuat komunikasi di lapangan berjalan sangat natural.
"Kalau yang saya rasakan, asyik waktu itu memang. Karena pemain-pemain yang ada di situ sudah cukup lama kita tahu satu sama lain, terutama di timnas. Jadi chemistry-nya itu memang sudah ada, di samping faktor individu skill-nya juga memang menunjang," tutur Ponaryo.
Ia bahkan memakai istilah otomatisasi untuk menggambarkan pemahaman antarpemain Sriwijaya FC. Sebelum menerima bola, Ponaryo merasa sudah tahu posisi dan pergerakan rekan setimnya.
"Saya sebelum dapat bola saja saya sudah tahu mau ngapain. Ini pasti di sini ada Firman, sebelah sana pasti ada Ridwan. Kayamba juga kayak gitu," kenang Ponaryo.
Pemahaman itu juga menghadirkan cerita ringan. Ponaryo mengingat Firman Utina kerap turun terlalu jauh menjemput bola, lalu ia menegur dengan nada bercanda agar Firman tetap menunggu di depan.
Kenangan yang Dibawa ke Borneo FC
Bagi Ponaryo, pengalaman bersama Sriwijaya FC menunjukkan bahwa tim hebat tidak hanya dibangun dari kemampuan individu. Ada ikatan dan pemahaman kolektif yang membuat permainan terasa lebih mengalir.
"Itu yang memperingan kerja masing-masing pemain dan masing-masing lini karena chemistry yang sudah sangat-sangat terjalin," ujar Ponaryo.
Kini, Ponaryo masih berada di dunia sepak bola sebagai Direktur Utama atau CEO Borneo FC. Kenangan tentang Sriwijaya FC menjadi salah satu pengingat baginya tentang pentingnya chemistry dalam membangun sebuah tim.
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

