Pelatih Inggris Kritik FIFA soal Status Folarin Balogun di Tim Nasional Inggris
Piala Dunia

Pelatih Inggris Kritik FIFA soal Status Folarin Balogun di Tim Nasional Inggris

Pelatih tim nasional Inggris Thomas Tuchel mengkritik FIFA pada Senin, 6 Juli 2026, di Jakarta, setelah Folarin Balogun diizinkan tetap bermain di Piala Dunia 2026. Keputusan itu diambil meski penyerang Amerika Serikat tersebut sebelumnya menerima kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina.

Balogun diusir keluar lapangan dalam laga babak 32 besar. Dengan kartu merah itu, ia seharusnya absen pada pertandingan 16 besar melawan Belgia. Namun, FIFA memutuskan tidak memberlakukan skorsing langsung sehingga Balogun tetap tersedia untuk dimainkan.

“Dari mana ini dimulai dan di mana ini berakhir sekarang? Bisakah kita membatalkannya atau tidak? Apa yang sedang terjadi?,” kata Thomas Tuchel dalam laporan BBC yang dipantau di Jakarta, Senin.

Keputusan FIFA itu memicu sorotan karena bertentangan dengan aturan turnamen. Dalam peraturan kompetisi disebutkan, pemain yang menerima kartu merah akan otomatis diskors pada pertandingan tim berikutnya.

Di sisi lain, FIFA menggunakan klausul dalam kode disiplinnya. Klausul itu memberi kewenangan untuk “menangguhkan sepenuhnya atau sebagian pelaksanaan tindakan disiplin”.

Pemulihan status Balogun terjadi setelah presiden AS Donald Trump menelepon presiden FIFA Gianni Infantino pada hari Kamis. Pembicaraan itu menyinggung penangguhan hukuman Balogun.

Pada hari Minggu, Presiden Trump berterima kasih kepada FIFA. Ia menyebut keputusan itu sebagai tindakan yang telah “membalikkan ketidakadilan besar”.

Tuchel kemudian ditanya apakah ia akan mengajukan petisi kepada FIFA. Pertanyaan itu muncul setelah Inggris menang atas Meksiko dan akan menghadapi Norwegia pada perempat final hari Sabtu mendatang.

“Pertanyaan yang saya ajukan adalah, di mana batasannya harus ditarik? Saya tidak punya jawaban untuk itu,” katanya.

Pelatih asal Jerman itu menilai keputusan tersebut menciptakan ketidakpastian soal penerapan aturan. Menurut dia, persoalannya bukan hanya pada kasus Balogun, tetapi juga pada konsistensi keputusan disiplin secara umum.

“Apakah kita mengajukan banding jika kartu kuning bukan kartu kuning? Apakah kita berpikir itu bukan kartu merah atau siapa yang berpikir demikian? Dari mana ini dimulai dan di mana ini berakhir? Itulah pertanyaan saya. Saya tidak punya jawabannya,” ujar Tuchel.

Tuchel juga menyinggung proses pengambilan keputusan saat Balogun menerima kartu merah. Ia mengatakan VAR ikut campur dan keputusan sudah dibuat setelah ditinjau oleh ofisial pertandingan.

“Saya pikir pertama-tama, untuk memperjelas, itu (Balogun) bukanlah kartu merah. Tetapi VAR ikut campur dan jelas tiga orang dari VAR dan wasit memeriksanya dan kemudian berpendapat bahwa itu adalah kartu merah, jadi keputusannya sudah dibuat,” katanya.

Ia lalu membandingkan kasus itu dengan keputusan lain sepanjang turnamen. Tuchel mencontohkan kartu kuning untuk Declan Rice dan juga situasi yang melibatkan (Michael) Olise.

“Jadi, apakah kartu kuning kita setelah menit pertama terhadap Declan Rice, kita bisa berdebat tanpa henti. Saya rasa itu bukan kartu kuning. Apakah kita akan mendapatkan kartu ini kembali?”

“Apakah Prancis akan mendapatkan kembali kartu kuning untuk (Michael) Olise yang sebenarnya bukan kartu kuning? Sampai di mana ini akan berakhir? Di mana ini akan berhenti?”

“Saya tidak tahu aturannya. Saya bukan orang yang tepat untuk ditanya. Saya akan menunggu dan melihat apa yang akan terjadi,” katanya.

Kasus Balogun menjadi perhatian karena disebut sebagai kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Piala Dunia sejak larangan otomatis untuk kartu merah diberlakukan. Tuchel menegaskan timnya kini hanya menunggu bagaimana FIFA akan menerapkan aturan pada kasus-kasus berikutnya.

Sumber: ANTARA

Tinggalkan Komentar