Pelatih Inter Milan Cristian Chivu menilai “Pazza Inter” menjadi kunci kebangkitan timnya saat menundukkan Como 1907 pada Rabu dini hari WIB di Stadion Giuseppe Meazza. Inter Milan menang 3-2 pada leg kedua semifinal Piala Italia (Coppa Italia) 2025/2026 setelah sempat tertinggal dua gol.
Chivu menyebut karakter “Pazza Inter” kembali terlihat karena timnya mampu membalikkan keadaan atas lawan yang sama untuk kedua kalinya dalam 10 hari. Sebelumnya, Inter juga bangkit saat menang 4-3 atas Como di Liga Italia.
“Membalikkan ketertinggalan 0-2 melawan Como dua kali dalam 10 hari, hanya ‘Pazza Inter’ yang bisa melakukannya,” kata Chivu, dikutip dari laporan media Italia, Sport Mediaset.
“Pazza Inter” merupakan julukan yang merujuk pada karakter lama Inter Milan. Tim itu dikenal tampil naik-turun, tetapi kerap menang secara dramatis.
Pada laga di Stadion Giuseppe Meazza, Como 1907 lebih dulu unggul lewat gol Martin Baturina pada menit ke-32. Keunggulan tim tamu bertambah setelah Lucas Da Cunha mencetak gol pada menit ke-48.
Inter Milan baru menemukan momentum setelah Chivu memasukkan Petar Sucic pada menit ke-60. Gelandang asal Kroasia itu langsung memberi dampak besar dalam fase akhir pertandingan.
Sucic menyumbang dua assist untuk gol Hakan Calhanoglu pada menit ke-69 dan menit ke-86. Setelah itu, Sucic ikut mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-89 usai memanfaatkan umpan Hakan.
Kemenangan 3-2 itu membawa Inter Milan lolos ke final. Nerazzurri kini menunggu pemenang laga leg kedua semifinal lainnya antara Atalanta kontra Lazio, Kamis (23/4) dini hari WIB.
Hasil tersebut juga menjaga peluang Inter Milan meraih dua gelar musim ini. Di Liga Italia, mereka memimpin 12 poin di puncak klasemen dengan lima pertandingan tersisa.
Sepanjang sejarah klub, Inter baru sekali menjuarai Liga Italia dan Coppa Italia secara bersamaan. Pencapaian itu terjadi pada musim 2009/2010 saat tim dilatih Jose Mourinho.
Pada musim tersebut, Inter Milan bahkan meraih treble. Cristian Chivu menjadi bagian dari skuad yang ditangani pelatih berjuluk The Special One itu.
Meski dibandingkan dengan Mourinho, Chivu memilih bersikap rendah hati. Ia menegaskan fokus utamanya adalah bekerja sebaik mungkin untuk tim dan memenuhi target musim ini.
“Saya hanya mencoba melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin untuk mereka yang percaya kepada saya, untuk para pemain hebat ini, dan berharap dapat membawa pulang beberapa tujuan kami,” kata Chivu.
Sumber: ANTARA News

