Meski Absen di Piala Dunia, Antusiasme Masyarakat China Tetap Tinggi
Piala Dunia

Meski Absen di Piala Dunia, Antusiasme Masyarakat China Tetap Tinggi

Gairah sepak bola masyarakat China tetap tinggi pada Rabu, 15 Juli 2026, di Beijing, meski negara itu kembali absen dari Piala Dunia FIFA. Antusiasme itu terlihat di media sosial dan stadion-stadion lokal, tempat liga akar rumput ramai dipadati penonton.

Bagi banyak penggemar di China, musim panas tahun ini menghadirkan dua hiburan sekaligus. Mereka mengikuti aksi para bintang dunia di Piala Dunia, lalu melanjutkan dukungan kepada tim kota masing-masing dalam kompetisi domestik amatir.

Pembahasan soal Piala Dunia terus ramai di berbagai platform media sosial China. Setiap gol, kontroversi, dan aksi pemain bintang memicu perhatian besar dari publik.

Namun, bentuk kecintaan paling nyata justru hadir di dalam negeri. Di berbagai wilayah China, liga kota amatir berkembang pesat dan menghadirkan suasana yang disebut sebagai “Piala Dunia akar rumput” bagi para penggemar.

Turnamen-turnamen itu tidak hanya menjadi ajang pertandingan biasa. Kompetisi tersebut juga membuka ruang bagi banyak kalangan untuk mengejar impian di sepak bola dan menarik penonton baru menjadi pendukung setia.

Selain itu, sepak bola lokal kini semakin terkait dengan kehidupan masyarakat. Kehadirannya ikut bersentuhan dengan budaya setempat, konsumsi publik, hingga pembangunan perkotaan.

Liga kota makin diminati

Salah satu contoh datang dari Su Super League Jiangsu yang memulai musim baru pada April lalu. Liga itu sudah memperkenalkan bola resmi pertandingan bernama Trionda sebelum Piala Dunia dimulai pada musim panas tahun ini.

Kompetisi tersebut juga mulai memakai teknologi VAR untuk meningkatkan standar profesional. Langkah itu menunjukkan keseriusan pengelolaan liga akar rumput di China.

Tahun lalu, 85 pertandingan di liga akar rumput menarik 2,43 juta penonton langsung di stadion. Tayangan pertandingannya juga mencatat lebih dari 2,2 miliar kali tontonan secara daring.

Pada tahun ini, jumlah penonton disebut terus meningkat. Lonjakan itu memperlihatkan bahwa sepak bola tetap hidup kuat di tengah masyarakat China.

Kontras pun terlihat jelas. China memang tidak tampil di panggung terbesar sepak bola dunia, tetapi olahraga itu tetap hadir kuat dalam kehidupan sehari-hari publiknya.

Harapan baru dari level muda

Publik China tetap memberi perhatian besar terhadap hasil pertandingan, peringkat, dan performa tim nasionalnya. Kegagalan lolos ke putaran final memang menimbulkan kekecewaan bagi banyak penggemar.

Meski begitu, harapan belum padam. Timnas U-23 China sempat mencatat pencapaian terbaiknya dengan menembus final Piala Asia U23 AFC pada Januari lalu.

“Mungkin ini adalah sebuah awal baru”.

Keberhasilan itu mendapat dukungan luas dari para pendukung. Popularitas liga kota yang terus naik juga dinilai membuka jalur yang lebih realistis untuk masa depan sepak bola China.

Di berbagai kota, program pengembangan pemuda terus disesuaikan dengan kondisi lokal. China juga memperluas pusat pelatihan multilevel, menambah lapangan sepak bola, dan mengirim lebih banyak pemain muda ke luar negeri untuk pelatihan serta pertukaran internasional.

Budaya sepak bola ikut meluas

Jangkauan budaya sepak bola di China juga terus berkembang. Penonton di China Daratan baru-baru ini menyambut film komedi terbaru “Kungfu Soccer” garapan Stephen Chow.

Film itu mencatat rekor pendapatan box office pada musim panas tidak lama setelah dirilis. Dengan tema sepak bola, film tersebut menghadirkan hiburan keluarga sekaligus menumbuhkan minat generasi baru terhadap olahraga ini.

Kebangkitan sepak bola China disebut tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Jalan ke depan masih panjang dan penuh tantangan, tetapi fondasi dari level komunitas dan pembinaan muda terus diperkuat.

Sumber: ANTARA News

Tinggalkan Komentar