Spanyol di Piala Dunia: Peran Pemain Diaspora dalam Persaingan Tim Nasional
Piala Dunia

Spanyol di Piala Dunia: Peran Pemain Diaspora dalam Persaingan Tim Nasional

Timnas Spanyol menutup Piala Dunia 2026 sebagai juara setelah menaklukkan Argentina pada final 19 Juli 2026 di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat. Keberhasilan itu kembali menegaskan kekuatan La Roja, sekaligus menyorot peran pemain diaspora dalam skuad mereka.

Sebaliknya, tim-tim yang diisi para pemain yang terbiasa bermain dalam kompetisi tinggi, yang bisa berarti akrab dengan kompetisi Eropa, adalah tim-tim yang lebih berhasil dalam Piala Dunia.

Spanyol disebut menjuarai turnamen ini dengan sempurna. Tim itu tampil dominan, memainkan sepak bola menyerang, dan menjaga konsistensi sepanjang turnamen.

Gelar ini mengulang keberhasilan Spanyol pada 2010. Saat itu mereka pertama kali menjadi juara dunia dengan skuad yang juga berusia relatif muda.

Pada 2010, Spanyol sukses dengan rata-rata usia skuad 24,5 tahun. Sementara pada edisi 2026, mereka juara dengan rata-rata usia tim 26 tahun.

Ada perbedaan lain dibanding skuad 2010. Jika saat itu tidak ada pemain berusia di bawah 21 tahun, kini Spanyol membawa dua pemain 19 tahun, yakni Lamine Yamal dan Pau Cubarsi.

Lamine Yamal menjadi salah satu simbol perubahan komposisi skuad Spanyol. Ia disebut merepresentasikan keberagaman dan keinklusifan yang menguat dalam beberapa tahun terakhir.

Skuad juara Piala Dunia 2010 hampir seluruhnya diisi pemain berkulit putih. Berbeda dengan itu, tim Spanyol di Piala Dunia 2026 hadir dengan latar belakang ras yang lebih beragam, termasuk pemain diaspora.

Yamal memiliki ayah asal Mesir dan ibu dari Guinea Khatulistiwa. Sementara Nico Williams merupakan pemain yang berorangtua Ghana.

Keduanya disebut sebagai bagian dari generasi kedua pemain kulit hitam Spanyol yang tampil pada putaran final Piala Dunia. Sebelumnya, ada Ansu Fati, Alejandro Balde, dan Williams sendiri.

Selain itu, ada juga Aymeric Laporte yang masuk skuad sebagai pemain diaspora. Bek tengah itu lahir dan besar di Prancis.

Yamal, Williams, dan Laporte disebut menjadi bagian penting dalam keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 dan Piala Eropa 2024. Ketiganya juga menggambarkan wajah baru Spanyol yang lebih inklusif.

Dalam artikel sumber, perubahan itu dikaitkan dengan situasi sosial Spanyol dalam beberapa tahun terakhir. Negara tersebut disebut menjadi salah satu yang paling progresif di Eropa melalui reformasi hukum, kampanye aksesibilitas, dan penerimaan sosial.

Perkembangan itu dinilai membantu mengikis hambatan sosial di masyarakat. Di saat sejumlah negara Eropa disebut cenderung anti-asing dan eksklusif, Spanyol justru dianggap semakin terbuka terhadap keberagaman.

Keberhasilan di Piala Dunia 2026 kemudian dibaca sebagai bagian dari keterbukaan tersebut. Sikap itu juga disebut sejalan dengan gagasan Piala Dunia yang inklusif, seperti yang kerap didengungkan FIFA dan Gianni Infantino.

Spanyol meraih sukses itu setelah menundukkan tim yang belakangan kerap dikaitkan dengan kecenderungan rasis. Dalam konteks itu, Yamal, Williams, dan Laporte juga disebut menjadi simbol konsep kewarganegaraan yang lebih progresif, luwes, dan merangkul.

Sumber: ANTARA News

Tinggalkan Komentar