Leicester Akhiri Kisah "Si Rubah": Tak Ada Lagi Dongeng di Kota Itu
Liga Inggris

Leicester Akhiri Kisah “Si Rubah”: Tak Ada Lagi Dongeng di Kota Itu

Leicester City kembali menjadi sorotan pada Rabu, 22 April 2026, di Leicester, Inggris, setelah kisah kejayaan mereka di Liga Inggris 2015/2016 kini berbanding terbalik dengan kondisi klub yang berkutat di papan bawah Championships.

Sepuluh tahun lalu, Leicester City menciptakan kejutan besar dengan merebut gelar Liga Inggris untuk pertama kalinya. Saat itu, klub berjuluk Si Rubah tersebut bukan unggulan utama seperti Manchester City, Chelsea, Manchester United, Liverpool, atau Arsenal.

Namun, Leicester mampu membalik semua prediksi. Dengan peluang juara yang disebut di bawah satu persen, mereka justru menutup musim dengan trofi paling bergengsi di sepak bola Inggris.

Keberhasilan itu tidak lepas dari peran Claudio Ranieri. Pelatih asal Italia tersebut dinilai mampu membangun keseimbangan tim dengan memadukan pemain senior dan pemain bertalenta.

Nama-nama seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, Danny Simpson, Marc Albrighton, Shinji Okazaki, dan Jamie Vardy menjadi tulang punggung tim. Di saat yang sama, Leicester juga diperkuat talenta potensial seperti N’Golo Kanté, Riyad Mahrez, dan Ben Chilwell.

Pada musim 2015/2016, Leicester City mengunci gelar Liga Inggris dengan catatan 23 kemenangan, 12 hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan. Mereka juga mencetak 68 gol dan kebobolan 36 gol.

Persentase kemenangan Leicester mencapai 60,53 persen. Catatan itu cukup untuk mengungguli Arsenal asuhan Arsène Wenger, yang menutup musim di posisi kedua dengan 71 poin.

Kisah Leicester saat itu terasa seperti dongeng di era sepak bola modern. Kejutan tersebut menjadi anomali di tengah kompetisi yang semakin didominasi klub-klub dengan kekuatan finansial besar.

Masalahnya, Leicester tidak memiliki sumber daya keuangan sebesar tim-tim “Big Six”. Kondisi itu membuat mereka sulit menjaga konsistensi untuk terus bersaing di papan atas Liga Inggris.

Kini, situasi klub berubah drastis. Tim yang bermarkas di King Power Stadium itu justru harus berjuang di kompetisi divisi kedua Inggris, yakni Championships.

Kondisi ini berpotensi memicu perombakan besar-besaran, terlebih dengan pendapatan klub yang akan menurun drastis akibat berlaga di EFL Championship.

Perubahan nasib Leicester menunjukkan betapa cepat peta persaingan sepak bola Inggris berubah. Klub yang pernah duduk di takhta tertinggi sepak bola Inggris kini menghadapi kenyataan berbeda di level yang lebih rendah.

Kondisi tersebut menjadi kontras dengan pencapaian mereka satu dekade lalu. Dari juara Liga Inggris menjadi tim yang berkutat di papan bawah Championships, Leicester kini tak lagi hidup dalam dongeng yang sama.

Sumber: ANTARA News

Tinggalkan Komentar