Leicester City tetap menerima hukuman pengurangan enam poin pada Rabu, 8 April 2026, setelah dewan banding independen menolak banding klub itu. Keputusan tersebut terkait pelanggaran aturan keuangan English Football League (EFL) saat Leicester bermain di Championship.
Liga Premier Inggris menyatakan putusan komisi independen yang menjatuhkan sanksi itu kini sudah berkekuatan. Kasus ini sebelumnya berawal dari investigasi awal yang dilakukan Liga Premier Inggris.
“Keputusan komisi independen yang merekomendasikan pengurangan enam poin terhadap Leicester City Football Club musim ini telah dijatuhkan oleh dewan banding independen,” demikian pernyataan Liga Premier Inggris yang dikutip dari situs resmi pada Rabu (8/4).
Pengurangan poin itu sempat membuat Leicester turun dari posisi ke-17 ke peringkat ke-20 klasemen divisi Championship. Setelah itu, performa The Foxes juga terus menurun hingga masuk zona degradasi.
Leicester kini terpaut satu poin dari zona aman dengan lima laga tersisa musim ini. Situasi itu membuat klub berada dalam tekanan besar untuk menghindari degradasi kedua secara beruntun.
Kasus ini bermula ketika Leicester didakwa oleh Liga Premier Inggris pada Mei 2025. Dakwaan itu terkait pelanggaran Aturan Keuntungan dan Stabilitas (PSR) untuk musim 2023/24.
Pada periode itu, Leicester masih bermain di Championship. Namun setelah terdegradasi, penanganan kasus kemudian diambil alih oleh EFL.
EFL lalu menyatakan Leicester bersalah melanggar aturan keuangan. Komisi independen menjatuhkan sanksi pengurangan enam poin pada Februari lalu.
Leicester sempat menyatakan kecewa atas hukuman yang diumumkan pada 5 Februari tersebut. Klub menilai sanksi itu tidak proporsional, lalu mengajukan banding dua pekan kemudian.
Banding itu diajukan kurang dari 24 jam setelah Leicester menunjuk Gary Rowett sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Namun, proses banding tidak mengubah hasil akhir.
Fokus Leicester Beralih ke Sisa Musim
Dalam pernyataan resmi klub, Leicester menegaskan kini mengalihkan perhatian penuh ke lima pertandingan terakhir musim ini. Klub ingin menentukan nasib mereka lewat hasil di lapangan.
“Dengan kasus ini yang telah berakhir dan lima pertandingan tersisa, seluruh elemen klub sepenuhnya fokus pada laga-laga ke depan dan menentukan nasib musim kami melalui hasil di lapangan. Kami tahu ini adalah periode yang menantang dan kami berterima kasih atas dukungan para suporter,” demikian pernyataan klub.
Berdasarkan aturan PSR, klub Premier League tidak boleh mengalami kerugian lebih dari 105 juta pound sterling dalam tiga tahun. Batas itu akan berkurang 22 juta pound untuk setiap musim yang dijalani di luar kasta tertinggi.
Dalam proses persidangan, Leicester berargumen periode penilaian seharusnya dihitung 36 bulan, bukan 37 bulan. Argumen itu muncul karena keterlambatan penyampaian laporan keuangan musim 2023/24.
Komisi akhirnya menerima penggunaan periode 36 bulan. Namun, hasil perhitungan tetap menunjukkan Leicester melampaui batas pengeluaran EFL.
Leicester disebut melewati batas sebesar 20,8 juta pound dari ambang yang ditetapkan, yakni 83 juta pound. Fakta itu menjadi dasar tetap diberlakukannya hukuman pengurangan poin.
Sejak sanksi diterapkan, Leicester hanya meraih satu kemenangan dalam 12 pertandingan di semua kompetisi. Catatan itu memperburuk posisi mereka dalam persaingan bertahan di Championship.
Sumber: ANTARA News

