Tottenham Hotspur berada dalam ancaman degradasi pada Jumat, 17 April 2026, di Liga Inggris, setelah rentetan hasil buruk menyeret mereka ke tiga terbawah klasemen. Situasi ini terjadi saat kompetisi menyisakan enam pertandingan lagi.
“Ini agak aneh untuk klub yang memiliki segalanya, dari stadion yang megah, sampai tempat latihan yang canggih”
Fernando Llorente mengaku tak percaya dengan kondisi yang dialami Tottenham Hotspur. Mantan striker pelapis Harry Kane itu melihat perubahan drastis dalam perjalanan Spurs.
Llorente sempat menyaksikan langsung keberhasilan Spurs menjuarai Liga Europa di Stadion San Mames pada Mei 2025. Saat itu, Tottenham mengalahkan Manchester United di final dan mengakhiri paceklik trofi.
Ia juga sempat melihat awal musim Spurs berjalan baik. Termasuk ketika klub London itu menjalani fase grup Liga Champions.
Namun, situasi berubah dalam tiga bulan terakhir. Kecemasan mulai muncul, seperti yang juga dirasakan para pendukung Spurs.
Atmosfer positif perlahan memudar. Bahkan setelah mereka kalah adu penalti melawan juara Liga Champions Paris Saint Germain dalam Piala Super Eropa.
Masalah terbesar Tottenham terlihat di Liga Premier. Sepanjang 2026, mereka belum pernah memenangkan satu pun pertandingan liga.
Catatan kandang mereka juga buruk. Spurs tak pernah menang di markas sendiri sejak 6 Desember 2025.
Total, Tottenham tak pernah menang dalam 14 pertandingan terakhir Liga Premier. Rentetan itu membuat mereka terjun ke zona merah.
Ancaman ini menjadi sangat serius karena Spurs sudah lama tak mengalami degradasi. Mereka terakhir turun kasta pada musim 1976-1977.
Setelah itu, Tottenham langsung kembali ke liga utama pada musim berikutnya. Sejak saat itu, mereka tak pernah lagi terdegradasi.
Kini, setelah 49 tahun, ancaman itu datang lagi. Padahal, secara ukuran klub, Tottenham disebut terlalu besar untuk berada dalam posisi seperti ini.
Enam lawan terakhir mereka di liga dinilai tidak lebih kuat dari Spurs. Brighton, Wolverhampton Wanderers, Leeds United, dan Everton disebut tidak lebih baik dari Tottenham.
Dalam pertemuan pertama musim ini, beberapa di antara tim itu juga sudah pernah dikalahkan Spurs. Hanya Aston Villa dan Chelsea yang mengalahkan mereka pada pertemuan pertama.
Karena itu, persoalan Tottenham bukan semata kualitas lawan. Sumber masalah mereka justru ada pada kondisi internal tim sendiri.
Artikel sumber menilai Spurs sedang menghadapi sakit struktural yang belum bisa disembuhkan. Itulah yang membuat kemampuan mereka tidak tercermin dalam hasil di lapangan.
Situasi ini juga membuat tekanan kepada tim semakin besar menjelang enam laga terakhir. Tottenham harus segera membalikkan keadaan jika ingin menghindari degradasi.
Dengan sisa jadwal yang ada, nasib Spurs kini lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mereka mengatasi persoalan sendiri. Bukan semata oleh siapa lawan yang akan dihadapi.
Sumber: ANTARA News

