Shin Tae-yong resmi menjadi penasihat teknik timnas Football 7 (F7) Indonesia pada Kamis di Jakarta Selatan. Dalam peran barunya itu, ia berharap bisa mentransfer ilmu yang didapat selama lima tahun melatih timnas sepak bola Indonesia kepada para pemain muda F7 Indonesia.
Peresmian Shin berlangsung bersamaan dengan deklarasi Federasi F7 Indonesia. Federasi ini dipimpin oleh Dudung Abdurachman. Shin menyebut kehadirannya di F7 Indonesia diharapkan memberi dukungan positif bagi pengembangan pemain muda.
“Jadi, mungkin bisa menjadi dukungan yang baik untuk mentransfer ilmu saya kepada pemain-pemain muda di Football 7,” kata Shin Tae-yong.
Sejak datang ke Indonesia pada awal 2020, pelatih asal Korea Selatan itu tak hanya menangani timnas senior. Ia juga memimpin tim kelompok umur, yakni U-19, U-20, dan U-23.
Dalam kurun lima tahun itu, Shin membawa Indonesia mencatat sejumlah hasil positif. Di antaranya meloloskan tiga tim ke Piala Asia, yaitu U-20, U-23, dan senior. Ia juga membawa Indonesia finis peringkat keempat Piala Asia U-23 2024.
Selain itu, Indonesia lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Timnas senior juga menembus babak 16 besar Piala Asia 2023.
“Saya juga sudah banyak belajar juga bagaimana bisa mengembangkan pemain-pemain muda dengan baik dan dengan cara apa. Apalagi saya sudah pernah berada di timnas Indonesia U-20, U-23, dan juga senior,” kata dia.
Shin mengatakan ada dua aspek yang ingin dibenahi di F7 Indonesia. Dua hal itu adalah mental dan fisik pemain. Menurut dia, kemampuan individu pemain Indonesia sudah baik, tetapi masih perlu ditopang kondisi fisik yang lebih kuat.
“Kemampuan individual mereka sangat baik, tetapi tidak ada fisik yang baik. Sehingga, tidak bisa mengeluarkan atau menampilkan yang terbaik, meskipun punya kemampuan yang bagus,” jelas pelatih berusia 55 tahun itu.
Ia juga menilai Football 7 memiliki karakter permainan yang berbeda. Lapangannya lebih kecil dan ruang bermain lebih sempit. Karena itu, menurut Shin, perkembangan permainan harus dilakukan bersama.
“Dengan berkembangnya Football 7 yang lapangannya kecil, dan mungkin, bermain di ruang yang lebih sempit. Sehingga, kita berkembang bersama.”
Shin juga menyinggung ajakan Dudung Abdurachman yang dinilainya agresif. Ia menegaskan akan berusaha maksimal agar Football 7 Indonesia bisa berkembang.
“Karena adanya ajakan dari pak Dudung Abdurachman (Ketua Federasi F7 Indonesia) yang agresif, jadi saya sendiri pun akan berusaha semaksimal mungkin dengan agresif juga agar bisa mempermudah dan berkembang bersama di Football 7,” tambah dia.
Agenda terdekat timnas Indonesia F7 adalah tampil pada Intercontinental Cup di Roma, Italia. Turnamen itu berlangsung pada 30 Juli sampai 2 Agustus 2026 dan diselenggarakan oleh International Football 7 Federation (FIF7).
Menuju ajang tersebut, timnas Indonesia F7 akan dilatih Socrates Matulessy sebagai pelatih kepala. Ia didampingi Difa Aryandra Zhafran sebagai asisten pelatih, Alfonsius Kelvan sebagai pelatih kiper, Reyhan Airlangga sebagai strength and conditioning coach, Asep Aziz sebagai fisioterapis, dan Yusuf Maulana sebagai additional coaching staf.
Socrates menjelaskan peran Shin pada turnamen terdekat akan membantunya menentukan kriteria pemain. Nantinya, pemilihan pemain dilakukan Socrates berdasarkan arahan kriteria dari Shin.
“Mungkin kalau milih pemain, nanti yang milih mungkin saya, tapi dari kriteria beliau. Yang dia bilang kriteria seperti ini, ini, ini, baru saya lihat tuh di lapangan seperti apa baru saya lapor lagi ke dia gitu,” kata dia.
Socrates menilai kehadiran Shin akan memberi dampak baik bagi perkembangan mini soccer di Indonesia. Menurut dia, pengalaman dan filosofi sepak bola Shin bisa membantu Football 7 berkembang lebih baik.
“Jadi bantuan dari Coach Shin ini menurut saya sih bagus banget untuk perkembangan mini soccer di Indonesia karena dia punya pengalaman, punya filosofi di sepak bola mungkin bisa membawa mini soccer ini bisa lebih baik lagi ke depannya,” jelas pelatih yang dulunya pemain timnas futsal Indonesia itu.
Sumber: ANTARA

