Media Brasil Soroti Kegagalan Selecao di Piala Dunia 2026
Timnas Brasil tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Norwegia pada babak 16 besar, Minggu (5/7), di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat. Hasil itu langsung memicu evaluasi luas dari sejumlah media Brasil terhadap performa Selecao dan debut Carlo Ancelotti di turnamen tersebut.
O Globo menyebut kekalahan itu sebagai “akhir dari mimpi meraih hexa”. Istilah itu merujuk pada ambisi Brasil memburu gelar juara dunia keenam. Media itu juga menilai debut Piala Dunia Carlo Ancelotti berakhir lebih cepat, bahkan sebelum Brasil menghadapi fase perempat final yang selama ini kerap menjadi hambatan.
Menurut O Globo, Brasil belum pernah tersingkir di babak 16 besar sejak edisi 1990. Saat itu, Argentina yang dipimpin Diego Maradona menghentikan langkah mereka. Media tersebut juga menyoroti catatan penguasaan bola Brasil yang hanya 32 persen di New Jersey.
Angka itu disebut sebagai yang terendah bagi Brasil dalam laga Piala Dunia sejak pencatatan statistik dimulai pada 1966. Fakta tersebut mempertegas betapa sulitnya Brasil mengendalikan pertandingan saat menghadapi Norwegia.
Folha de S.Paulo juga mengulas hasil itu dengan nada serupa. Surat kabar tersebut menulis, “Brasil tersingkir, dan mimpi itu pun sirna,” untuk menggambarkan kekecewaan besar setelah langkah Selecao terhenti.
Media itu menggambarkan Norwegia sebagai tim yang “mendayung, berjaya, dan meninggalkan Selecao terdampar di pantai”. Ulasan itu merujuk pada dua gol Erling Haaland pada babak kedua yang memastikan kekalahan Brasil.
Folha juga menyoroti momen pahit bagi Neymar. Media tersebut menyebut hari itu sebagai hari yang sangat memilukan bagi sang penyerang. Neymar disebut telah memainkan laga Piala Dunia terakhirnya pada usia 34 tahun.
Dalam penilaian yang sama, Folha menyebut Ancelotti kini memiliki waktu empat tahun untuk membentuk tim “tanpa improvisasi”. Media itu berargumen pelatih asal Italia tersebut belum mendapat cukup waktu untuk menerapkan gagasannya secara penuh sejak ditunjuk pada Mei tahun lalu.
UOL mengambil sudut pandang yang lebih tajam. Media itu menilai kegagalan bersama Selecao menjadi noda terbesar dalam perjalanan karier Ancelotti, yang sebelumnya dikenal sangat sukses di level klub Eropa.
“Kegagalan bersama Selecao merupakan yang terbesar dalam karier Ancelotti, sang raja di level klub,” kata UOL.
Dalam tulisan lain di UOL, kolumnis Mauro Cezar Pereira menyalahkan pendekatan taktis Ancelotti. Ia menilai hasil itu ditentukan oleh keputusan sang pelatih sejak awal laga hingga pilihan bermain tanpa dominasi bola.
“Sebuah eliminasi yang ditentukan oleh pilihan-pilihan sang pelatih. Mulai dari sudut pandang strategis hingga keputusan untuk kembali bermain tanpa menguasai bola,” tulis Pereira.
Pereira juga menggarisbawahi tren buruk Brasil di Piala Dunia. Menurut dia, Brasil selalu disingkirkan tim-tim Eropa dalam enam edisi beruntun sejak 2006.
Sementara itu, Gazeta Esportiva menyoroti kegagalan penalti Bruno Guimaraes pada babak pertama. Media tersebut menyebut gelandang Newcastle United itu sebagai pemain Brasil pertama yang gagal mengeksekusi penalti dalam waktu normal di Piala Dunia sejak Zico melakukannya saat melawan Prancis pada 1986.
Sumber: ANTARA News
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

