John Herdman mulai memberi gambaran awal tentang arah baru Timnas Indonesia. Sejak resmi ditunjuk PSSI sebagai pelatih pada 3 Januari 2026, pelatih asal Inggris itu telah memimpin skuad Garuda dalam empat laga persahabatan.
Hasilnya cukup meyakinkan. Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts & Nevis pada 27 Maret, lalu kalah tipis 0-1 dari Bulgaria pada 30 Maret. Setelah itu, skuad Garuda menundukkan Oman 3-0 pada 5 Juni dan mengalahkan Mozambik 1-0 pada 9 Juni dalam agenda FIFA Matchday.
Rangkaian hasil tersebut ikut berdampak pada peringkat FIFA Indonesia. Skuad Garuda naik empat tingkat, dari posisi 122 ke peringkat 118 dunia.
Baca juga: John Herdman Temui Prabowo, Bahas Dukungan untuk Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
Meski begitu, empat pertandingan tentu belum cukup untuk menilai kinerja seorang pelatih secara utuh. Namun, dari laga-laga awal tersebut, mulai terlihat beberapa petunjuk tentang arah permainan Timnas Indonesia di bawah Herdman.
John Herdman dan Peta Awal Timnas Indonesia
Kiprah Herdman sejauh ini mendapat sambutan yang mayoritas positif dari pencinta sepak bola nasional. Dalam berbagai diskusi sepak bola, sejumlah pengamat menilai ia mulai menanamkan identitas permainan yang lebih jelas.
Timnas Indonesia disebut tampil lebih terorganisasi, agresif saat merebut bola, dan disiplin ketika bertahan. Serangan juga dibangun dengan tempo yang lebih terukur, sementara transisi antarlini berjalan lebih rapi.
Topas Wiyantoro Pamungkas, pelatih berlisensi C PSSI yang kini menangani Jogja Istimewa Football, menilai organisasi permainan Timnas Indonesia terlihat lebih menyatu. Ia menyebut chemistry antarpemain yang sudah terbentuk dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor penting.
“Secara organisasi permainan dan sistem tim, racikan Herdman terlihat lebih menyatu dan kompak. Salah satu faktor utamanya adalah para pemain sudah saling mengenal dengan baik sehingga chemistry yang terbangun dalam beberapa tahun terakhir dapat dimaksimalkan di lapangan,” ujar Topas saat berbincang dengan Xinhua, Senin (15/6/2026).
Menurut mantan pemain PSIM Yogyakarta dan PSIS Semarang itu, Herdman sejauh ini mampu meningkatkan kemampuan tim secara keseluruhan. Ia juga melihat ada upaya memperbaiki kelemahan taktis serta menjaga keseimbangan antara identitas permainan yang sudah terbentuk dan kebutuhan beradaptasi di level internasional.
Meski demikian, Topas menilai penilaian terhadap Herdman tetap perlu menunggu ujian yang lebih berat. Menurutnya, Timnas Indonesia harus menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi agar perkembangan tim bisa terlihat lebih menyeluruh.
“Kehadiran Herdman sejauh ini terlihat mampu melengkapi kepingan yang masih kurang, terutama dalam menutup celah-celah taktis yang sebelumnya kerap muncul, meski tentu proses penyempurnaannya masih terus berjalan. Saya ingin melihat Indonesia menghadapi lawan yang kelasnya sedikit jauh di atas kita,” kata Topas.
Ujian Besar Menanti di AFF 2026 dan Piala Asia 2027
PSSI menunjuk Herdman dengan mempertimbangkan rekam jejaknya di sepak bola internasional. Pelatih berusia 50 tahun itu dikenal lewat kiprahnya bersama Kanada, termasuk saat membawa negara Amerika Utara tersebut menembus putaran final Piala Dunia 2022.
Di Indonesia, Herdman memikul tanggung jawab yang lebih besar. Ia dipercaya menakhodai skuad Garuda dengan target jangka panjang menuju putaran final Piala Dunia 2030.
Herdman menyepakati kontrak berdurasi dua tahun hingga 2028, dengan opsi perpanjangan hingga 2030. Rentang waktu itu memberi ruang baginya untuk membangun tim dari fondasi yang ditinggalkan para pelatih sebelumnya, sekaligus menanamkan filosofi permainan yang ingin ia bawa.
Namun, panggung pembuktian yang lebih relevan kemungkinan hadir dalam dua turnamen penting. Timnas Indonesia akan menghadapi AFF Championship 2026 pada 24 Juli-26 Agustus 2026, kemudian Piala Asia 2027 di Arab Saudi pada 7 Januari-5 Februari 2027.
Dua ajang tersebut akan menjadi tolok ukur penting untuk melihat sejauh mana ide dan proyek jangka panjang Herdman bisa diterjemahkan ke dalam prestasi. Hasil di turnamen itu juga berpotensi menjadi bahan pertimbangan PSSI dalam mengevaluasi masa depan kontraknya.
Bagi publik sepak bola nasional, empat laga awal memberi alasan untuk optimistis, tetapi belum cukup untuk menarik kesimpulan besar. Ujian berikutnya akan menentukan apakah peta jalan Timnas Indonesia di era John Herdman benar-benar mengarah ke level yang lebih tinggi.
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

