Hansi Flick dan Jose Mourinho menjadi sorotan jelang El Classico musim 2026/2027 di Spanyol, Jumat, 23 Oktober 2026. Di Jakarta, duel Barcelona melawan Real Madrid itu digambarkan seperti pertarungan Superman melawan Batman.
Perbandingan itu muncul karena Flick dinilai tampil dominan bersama Barcelona dalam beberapa musim terakhir. Sementara Mourinho datang ke Real Madrid untuk membenahi tim yang sedang mencari kembali identitasnya.
“Tentu El Classico perdana yang mempertemukan Flick vs Mourinho akan sangat menarik selayaknya film box office Superman vs Batman.”
Flick disebut berada dalam posisi unggul menjelang duel tersebut. Pelatih asal Jerman itu membawa Barcelona meraih gelar LaLiga pada 2024/2025 dan 2025/2026.
Ia juga mempersembahkan Copa del Rey 2024/2025 dan Supercopa de Espana 2024/2025. Kehadirannya di Catalunya dinilai memberi dampak besar bagi klub yang sempat menghadapi krisis keuangan.
Selain itu, Barcelona juga disebut mengalami lambannya proses regenerasi. Namun Flick tidak butuh waktu lama untuk mengangkat kembali daya saing Blaugrana.
Di bawah arahannya, Barcelona kembali dikenal dengan permainan atraktif. Tim juga tampil dengan pressing tinggi dan organisasi permainan yang rapi.
Kondisi itu membuat Flick disamakan dengan Superman. Ia dianggap mampu memperbaiki tim yang sempat rapuh, kehilangan kepemimpinan di ruang ganti, dan kehilangan identitas permainan.
Di sisi lain, Mourinho kembali ke Real Madrid setelah sebelumnya melatih klub itu pada era 2010-2013. Ia ditunjuk lagi setelah Los Blancos menjalani dua musim tanpa gelar.
Real Madrid juga melakukan perombakan skuad dan pergantian pelatih. Dalam proses itu, dua nama yang sudah ditendang adalah Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa.
Mourinho datang dengan tugas berat. Ia harus merapikan tim yang disebut sedang mengalami krisis ruang ganti, kehilangan pemimpin, dan belum punya identitas jelas di lapangan.
Meski sudah mengenal Madrid, Mourinho masih menghadapi masa transisi. Hasil Real Madrid bersama Kylian Mbappe dan kolega juga masih belum stabil.
Di LaLiga, El Real sudah menelan dua kali kekalahan. Mereka juga mencatat tujuh kali kemenangan hingga memasuki pekan ketujuh.
Catatan itu belum cukup aman dalam persaingan gelar. Sebab, Barcelona masih tak terkalahkan dan telah mengunci sembilan kemenangan beruntun.
Namun Mourinho punya modal besar dari kedalaman skuad. Real Madrid saat ini dihuni banyak pemain bintang dan mendapat tambahan amunisi pada bursa transfer.
Beberapa nama yang didatangkan adalah Ibrahima Konate, Marc Cucurella, Bernardo Silva, Denzel Dumfries, Carlos Espi, hingga Yan Diomande. Nama terakhir ditebus dengan mahar 140 juta Euro.
Mourinho disebut ditugaskan untuk mengelola kekuatan skuad itu sebaik mungkin. Salah satu kelebihannya adalah kemampuan mengatur pemain dan memainkan aspek psikologis mereka.
Contoh terbaru terlihat pada laga pekan ketiga Liga Champions di Santiago Bernabeu, Kamis (22/10). Mourinho menarik Vinicius Junior pada menit ke-70 dan memasukkan Yan Diomande.
Langkah itu menunjukkan tidak ada jaminan tempat utama bagi siapa pun. Pemain yang tampil di bawah standar bisa saja langsung diganti.
Karena itu, duel melawan Barcelona nanti menjadi ujian terbesar Mourinho sejauh ini. Ia akan berhadapan dengan tim yang sedang berada di puncak performa bersama Flick.
Sumber: ANTARA
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

