Tijjani Reijnders Dikabarkan Segera Bergabung dengan Klub Arab SaudiYordania Manfaatkan Srikandi Cup untuk Menambah Jam Terbang di Level InternasionalLaLiga Musim Depan Diprediksi Lebih Kompetitif, Persaingan Tim Papan Atas Kian KetatBuendia Tetap Bangga Meski Aston Villa Gagal Meraih Gelar JuaraMarquinhos soal gelar Piala Super Eropa: Ini cara tepat membuka musim baruJelang Musim Baru, LaLiga Gelar Kick Off di Jakarta untuk Sambut Kompetisi 2024/2025India Dikabarkan Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026, Kepastian Masih DitungguAmorim Hadapi Manchester United saat AC Milan Jalani Awal Musim yang Kurang BaikArsenal tutup pramusim dengan kemenangan atas Como: menang adu penalti 4-3Pramusim di Dublin: Manchester United menang atas Leeds United lewat adu penaltiTijjani Reijnders Dikabarkan Segera Bergabung dengan Klub Arab SaudiYordania Manfaatkan Srikandi Cup untuk Menambah Jam Terbang di Level InternasionalLaLiga Musim Depan Diprediksi Lebih Kompetitif, Persaingan Tim Papan Atas Kian KetatBuendia Tetap Bangga Meski Aston Villa Gagal Meraih Gelar JuaraMarquinhos soal gelar Piala Super Eropa: Ini cara tepat membuka musim baruJelang Musim Baru, LaLiga Gelar Kick Off di Jakarta untuk Sambut Kompetisi 2024/2025India Dikabarkan Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026, Kepastian Masih DitungguAmorim Hadapi Manchester United saat AC Milan Jalani Awal Musim yang Kurang BaikArsenal tutup pramusim dengan kemenangan atas Como: menang adu penalti 4-3Pramusim di Dublin: Manchester United menang atas Leeds United lewat adu penalti
Belajar dari La Masia: Membangun sistem pembinaan, bukan sekadar mencari pemain bintang
Piala Dunia

Belajar dari La Masia: Membangun sistem pembinaan, bukan sekadar mencari pemain bintang

Pertemuan Argentina dan Spanyol di final Piala Dunia 2026 menjadi sorotan dalam telaah yang ditulis Kamis, 16 Juli 2026 di Surabaya. Artikel itu menekankan pentingnya sistem pembinaan, bukan sekadar mencari bintang, dengan menyorot jejak La Masia pada Lionel Messi dan Lamine Yamal.

Final Piala Dunia, menurut tulisan tersebut, selalu menghadirkan cerita yang melampaui 90 menit pertandingan. Publik memang akan mengingat gol, penyelamatan gemilang, atau keputusan taktis pelatih. Namun, ada proses panjang yang bekerja jauh sebelum laga dimainkan.

“masa depan sepak bola Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat kita menemukan “Messi Indonesia”. Masa depan akan ditentukan oleh kemampuan kita membangun sistem yang memungkinkan ribuan anak Indonesia berkembang sesuai dengan potensinya.”

Tulisan itu menjelaskan satu tim nasional tidak dibentuk dalam hitungan bulan. Sebuah tim lahir dari pembinaan usia dini, kualitas kompetisi, dan keberanian klub memberi ruang bagi pemain muda. Selain itu, organisasi juga harus mampu menjaga budaya selama puluhan tahun.

Karena itu, final antara Argentina dan Spanyol dinilai bukan hanya perebutan trofi. Laga tersebut juga mencerminkan pertemuan dua tradisi pembinaan yang telah berjalan lama. Fokusnya bukan semata hasil akhir, melainkan fondasi yang menopang kedua tim.

Semifinal Argentina melawan Inggris disebut sebagai contoh menarik. Inggris sempat memimpin sebelum memilih bertahan lebih dalam pada 20 menit terakhir. Keputusan itu memang memperkuat pertahanan, tetapi juga memberi Argentina ruang untuk menguasai bola.

Argentina lalu mengambil alih ritme permainan. Lionel Messi turun mengatur serangan dan memaksa pertahanan Inggris terus bergeser. Situasi itu berujung pada gol penyeimbang Enzo Fernandez, sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan lewat sundulan pada masa tambahan waktu.

Dalam sudut pandang manajemen, pertandingan itu menunjukkan tekanan yang terkumpul perlahan bisa menemukan celah. Hal itu terjadi saat sebuah sistem kehilangan kemampuan mengendalikan keadaan. Pesan ini menjadi salah satu benang merah dari keseluruhan telaah.

Final kemudian menghadirkan narasi besar lain, yakni pertemuan Lionel Messi dengan Lamine Yamal. Messi digambarkan berada di pengujung karier yang luar biasa. Di sisi lain, Yamal baru memulai perjalanan menuju level tertinggi.

Keduanya berasal dari generasi berbeda dan membela negara berbeda. Karakter bermain mereka juga tidak sama. Meski begitu, ada satu titik temu penting, yakni keduanya pernah dibentuk oleh filosofi yang sama.

La Masia dalam tulisan ini tidak ditempatkan sebagai pabrik pencetak nama besar semata. Akademi itu dipandang sebagai contoh bahwa kekuatan utama lahir dari sistem yang konsisten. Dari sana, pemain bisa tumbuh sesuai kebutuhan permainan dan budaya sepak bola yang dijaga lama.

Pesan utama tulisan tersebut adalah pembangunan sepak bola tidak bisa bergantung pada kemunculan satu sosok istimewa. Yang lebih menentukan adalah tersedianya lingkungan yang memberi kesempatan bagi banyak pemain muda berkembang. Dengan cara itu, hasil besar bisa lahir dari proses yang terjaga.

Sumber: ANTARA News

Tinggalkan Komentar