Manchester City dilaporkan memasuki babak baru dalam kasus dugaan pelanggaran aturan finansial pada September 2026 di Inggris. Pada Rabu, 30 September 2026, laporan menyebut klub itu dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan yang diajukan Premier League. Meski begitu, sanksi untuk klub belum ditetapkan dan proses hukum masih berjalan.
Kasus ini berawal dari dugaan pelanggaran aturan finansial Premier League dalam rentang panjang. Manchester City sejak awal membantah seluruh tuduhan. Klub juga menyatakan memiliki bukti yang mendukung posisi mereka.
Awal kasus dan rujukan ke komisi independen
Pada 6 Februari 2023, Premier League resmi merujuk Manchester City ke komisi independen. Rujukan itu terkait dugaan pelanggaran aturan kompetisi. Tuduhan tersebut mencakup periode musim 2009/2010 hingga 2017/2018 untuk informasi keuangan.
Kasus ini kemudian luas dikenal sebagai perkara 115 dakwaan. Isinya meliputi dugaan kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat. Selain itu, ada pula tuduhan soal pembayaran kepada pemain dan manajer.
Manchester City juga didakwa terkait kepatuhan terhadap aturan UEFA. Premier League turut menyoroti aturan Profitability and Sustainability Rules atau PSR. Ada pula dugaan kegagalan bekerja sama dengan penyelidikan Premier League.
Sidang berlangsung pada 2024
Sidang kasus Manchester City dimulai pada 16 September 2024. Pemeriksaan berakhir pada 6 Desember 2024. Perkara itu ditangani komisi independen yang terdiri atas tiga anggota.
Proses sidang berjalan lama karena banyaknya dakwaan dan dokumen yang diperiksa. Kasus tersebut menjadi salah satu proses hukum finansial paling kompleks dalam sejarah sepak bola Inggris. Setelah sidang selesai, putusan tidak langsung diumumkan.
Laporan tentang hasil perkara baru mulai muncul pada September 2026. Namun, hasil itu belum dipublikasikan secara resmi oleh Premier League. Prosesnya juga masih dinyatakan berjalan dan bersifat rahasia.
Laporan 114 dari 115 dakwaan
Pada 25 September 2026, sejumlah media Inggris melaporkan komisi independen telah menyatakan Manchester City bersalah atas 114 dari 115 dakwaan. Angka tersebut berasal dari laporan media. Informasi itu disebut berdasarkan sumber yang mengetahui proses perkara.
Karena belum diumumkan resmi, hasil tersebut masih dipahami sebagai laporan media. Manchester City tetap pada posisi bahwa klub tidak melakukan pelanggaran. Klub juga menegaskan proses Premier League masih berlangsung.
Jenis dakwaan yang menjerat City
Dakwaan utama berkaitan dengan kewajiban klub memberikan informasi keuangan secara akurat kepada Premier League. Tuduhan itu mencakup pendapatan, sponsor, pihak terkait, dan biaya operasional. Periode yang disorot terjadi dalam sejumlah musim sejak 2009/2010 hingga 2017/2018.
Selain itu, Manchester City menghadapi dakwaan soal informasi pembayaran kepada pemain dan manajer. Ada juga tuduhan mengenai kepatuhan pada aturan finansial UEFA. Premier League pun menuduh City melanggar sejumlah aturan PSR.
Hukuman belum diputuskan
Sanksi terhadap Manchester City sampai kini belum ditetapkan. Aturan Premier League menyediakan beberapa pilihan hukuman bila pelanggaran terbukti. Opsi itu mencakup denda, pengurangan poin, pembatasan atau pembatalan pendaftaran pemain, hingga penangguhan klub dari pertandingan.
Dalam kondisi tertentu, komisi juga dapat merekomendasikan pengeluaran klub dari kompetisi Premier League. Namun, besarnya hukuman tidak otomatis ditentukan dari jumlah dakwaan. Jenis pelanggaran, periode pelanggaran, dan keputusan komisi atas tiap perkara akan menjadi pertimbangan.
Manchester City masih bisa banding
Kasus ini belum dianggap selesai karena Manchester City masih memiliki jalur banding. Mekanisme banding disediakan dalam aturan Premier League. Proses itu akan diperiksa badan banding yang berbeda dari komisi sebelumnya.
Artinya, laporan 114 dakwaan yang dinyatakan terbukti belum otomatis membuat Manchester City langsung menerima hukuman tertentu. Sanksi masih harus ditentukan. Hasil akhirnya juga masih bisa dipengaruhi proses banding.
Sumber: ANTARA News
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

