Masalah keterlambatan gaji kembali muncul di Liga Indonesia pada Sabtu, 18 April 2026, di tengah bergulirnya BRI Super League 2025/2026. Sorotan tertuju pada PSBS Biak setelah muncul laporan soal penundaan gaji pemain dan kekurangan fasilitas pendukung.
Kasus itu mencuat setelah pada Rabu (15/4) beredar surat anonim di grup Whatsapp pewarta sepak bola. Surat tersebut ditujukan kepada PSBS Biak, operator liga ILeague, dan PSSI.
Dalam surat itu, para pemain mengeluhkan gaji yang belum diterima selama dua setengah bulan sampai tiga bulan. Keluhan lain juga menyangkut kebutuhan dasar seperti air minum setelah latihan, makanan bagi pemain lokal, kendaraan, dan tempat tinggal.
Salah satu pemain PSBS Biak, Pablo Andrade, sempat mengunggah surat tersebut melalui story di Instagram pribadinya. Namun unggahan itu sudah hilang karena hanya bertahan selama 24 jam.
Kabar tersebut kemudian sampai ke Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). Pada Kamis (16/4), APPI mengonfirmasi bahwa para pemain PSBS Biak sudah tiga bulan tidak mendapat gaji.
APPI menyatakan proses penanganan atas laporan itu masih berjalan sesuai ketentuan hukum. Mereka juga berharap kewajiban klub terhadap para pemain bisa segera diselesaikan.
“operator Liga Indonesia harus tegas dengan persyaratan lisensi yang ada”
Masalah lama yang terus berulang
Keterlambatan gaji bukan persoalan baru di kompetisi sepak bola Indonesia. Kasus serupa sudah beberapa kali muncul, termasuk di level tertinggi.
Publik masih mengingat keluhan pelatih PSM Makassar saat itu, Bernardo Tavares, pada September tahun lalu. Pelatih asal Portugal itu secara terbuka menyampaikan masalah keterlambatan gaji dalam jumpa pers jelang laga melawan Persija Jakarta.
Menjelang dimulainya Super League 2025/2026, tunggakan gaji juga masih ditemukan di beberapa klub peserta. Wakil Ketua APPI Achmad Jufriyanto saat itu menyebut ada 15 pemain dari empat klub berbeda yang upahnya belum dibayarkan.
Total tunggakan pembayaran pada kasus tersebut mencapai Rp4,3 miliar. Angka itu menunjukkan persoalan finansial klub belum sepenuhnya terselesaikan sebelum kompetisi dimulai.
Kasus yang paling tragis pernah terjadi pada 2012. Pemain asing asal Paraguay Diego Mendieta wafat setelah jatuh sakit, saat gajinya selama empat bulan belum dibayarkan oleh Persis Solo.
Tak hanya terjadi di kasta tertinggi
Masalah gaji tersendat tidak hanya terjadi di kompetisi level atas. Kasus serupa diyakini juga banyak terjadi di klub-klub divisi Championship atau strata yang lebih rendah.
Namun, persoalan itu jarang muncul ke permukaan. Salah satu penyebabnya, para pemain disebut jarang melaporkan kasus yang mereka alami.
Munculnya laporan dari PSBS Biak kembali memperlihatkan bahwa isu kesejahteraan pemain masih menjadi pekerjaan rumah di Liga Indonesia. Kasus ini juga menambah daftar panjang persoalan keterlambatan gaji yang terus menghantui kompetisi nasional.
Sumber: ANTARA News

