Cesc Fabregas Minta Como Tetap Rendah Hati usai Menang 4-1
Pelatih kepala Como 1907 Cesc Fabregas meminta timnya tetap rendah hati setelah menang 4-1 atas RB Leipzig di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Jumat WIB. Laga itu menjadi pembuka Como di Liga Champions (UEFA Champions League/UCL).
Empat gol Como dicetak Martin Baturina pada menit ke-15, Anastasios Douvikas menit ke-38, Assane Diano menit ke-54, dan Maximo Perrone menit ke-90. RB Leipzig hanya membalas lewat Andrija Maksimovic pada menit ke-58.
“Kami harus rendah hati dan mampu tampil setiap tiga hari. Ini akan menjadi musim yang sangat sulit dan kami harus mempertahankan mentalitas yang tepat,” kata Fabregas, dikutip dari laman resmi Football Italia, Jumat.
Fabregas mengaku senang dengan hasil tersebut. Namun, ia tidak ingin timnya terlalu lama larut dalam euforia kemenangan pertama mereka di Eropa.
Menurut dia, Como harus segera mengalihkan fokus ke laga berikutnya. Timnya dijadwalkan menghadapi Parma di Liga Italia pada Senin (14/9) pukul 23.30 WIB.
“Saya senang, tetapi itu hanya akan bertahan lima menit karena setelah itu kami harus mempersiapkan diri menghadapi Parma pada Senin, dan kami membutuhkan energi yang sama seperti malam ini,” kata Fabregas.
Fabregas juga menyebut kemenangan ini sebagai malam bersejarah bagi kota dan klub. Meski begitu, ia menegaskan Serie A tetap menjadi prioritas utama Como pada musim ini.
“Jelas, saya memahami bahwa ini adalah malam bersejarah bagi kota dan klub. Ini adalah hadiah yang pantas kami dapatkan atas kerja luar biasa yang kami lakukan musim lalu. Namun, Serie A tetap menjadi target terpenting. Bagaimanapun, Serie A-lah yang memungkinkan kami kembali ke Liga Champions,” ujar dia.
Como menjadi satu-satunya tim Italia yang menang pada laga pertama Liga Champions musim ini. Pada pertandingan lain, AS Roma ditahan imbang Fenerbahce 1-1, Inter Milan kalah 1-2 dari Real Madrid, dan Napoli takluk 0-1 dari Arsenal.
Kemenangan atas RB Leipzig juga memperpanjang tren positif Como. Tim asuhan Fabregas mencatat kemenangan ketiga secara beruntun setelah sebelumnya mengalahkan Napoli dan Genoa di Liga Italia.
Dalam dua pertandingan terakhir, Fabregas sempat mengubah formasi menjadi lima pemain bertahan sekitar menit ke-60. Langkah itu diambil untuk membantu tim mengendalikan jalannya laga.
“Anda ingin menjadi tim yang lengkap dan dominan, tetapi itu juga berarti mengendalikan berbagai situasi kecil dalam pertandingan. Di Napoli, cuacanya sangat panas dan lembap sehingga mustahil bagi kami untuk terus melakukan pressing tanpa henti,” kata sang pelatih.
Pada laga melawan Leipzig, Fabregas menilai lawan sempat mengubah pendekatan permainan setelah Como unggul 3-0. Situasi itu membuat timnya harus menyesuaikan strategi.
“Hari ini kami memang mencoba mengendalikannya. Setelah unggul 3-0, Leipzig mengubah sistem dan mulai membangun serangan dengan tiga pemain plus satu, menyerang dari sisi sayap dan bermain lebih mengandalkan kekuatan fisik. Kami sedikit lelah sehingga saya lebih memilih untuk mengendalikan situasi,” kata dia.
“Itulah mengapa kami harus mampu beradaptasi dalam situasi yang berbeda, terutama menghadapi tim yang pada momen tertentu bermain lebih baik daripada kami,” lanjut Fabregas.
Sumber: ANTARA News
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

