Piala Dunia 2026 tetap mempertahankan laga perebutan peringkat ketiga, sementara Euro sudah menghapus format itu sejak 1984. Fakta itu kembali jadi sorotan pada Jumat, 17 Juli 2026, di tengah fase akhir turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat.
Di edisi kali ini, Prancis dan Inggris harus memainkan laga perebutan peringkat ketiga setelah kalah di semifinal. Prancis takluk 0-2 dari Spanyol, sedangkan Inggris kalah 1-2 dari Argentina.
Perbedaan kebijakan antara FIFA dan UEFA berakar pada sejumlah faktor. Salah satu alasan utama FIFA mempertahankan pertandingan ini adalah sisi komersial.
Setiap laga tambahan di Piala Dunia memberi pemasukan lebih besar. Sumbernya berasal dari penjualan tiket, hak siar televisi, dan pendapatan iklan.
Pertandingan itu juga mengisi jeda antara semifinal dan final. Dengan begitu, penyelenggara tetap memiliki laga penting untuk disajikan kepada penonton di seluruh dunia.
Selain faktor bisnis, laga perebutan tempat ketiga juga berdampak pada ranking FIFA. Karena berstatus laga resmi, hasil pertandingan ini memiliki nilai lebih tinggi daripada laga uji coba.
Kemenangan dalam partai itu bisa menambah poin sebuah negara di ranking FIFA. Tambahan poin tersebut berpengaruh pada penempatan unggulan dalam undian kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan UEFA Nations League.
Bagi pemain, pertandingan ini menjadi kesempatan terakhir menutup turnamen dengan hasil positif. Hal itu penting setelah kegagalan menembus final.
Tim pemenang juga membawa pulang medali perunggu. Selain itu, hadiah uang untuk peringkat ketiga lebih besar dibanding tim yang finis di posisi keempat.
FIFA memberikan 29 juta dolar AS kepada tim peringkat ketiga. Sementara tim peringkat keempat menerima 27 juta dolar AS.
Sejarah panjang di Piala Dunia
Laga perebutan peringkat ketiga sudah ada sejak Piala Dunia 1934. Saat itu Jerman mengalahkan Austria 3-2 untuk merebut posisi ketiga.
Pada Piala Dunia 1930, pertandingan itu belum dimainkan. Amerika Serikat kemudian ditetapkan sebagai peringkat ketiga karena memiliki selisih gol lebih baik daripada Yugoslavia.
Laga itu kembali hadir pada Piala Dunia 1938. Namun, format tersebut sempat ditiadakan pada edisi 1950 karena babak akhir memakai sistem grup.
Sejak Piala Dunia 1954, pertandingan perebutan tempat ketiga selalu menjadi bagian dari turnamen. Format itu pun bertahan hingga Piala Dunia 2026.
Melahirkan rekor dan memengaruhi Golden Boot
Pertandingan perebutan peringkat ketiga juga melahirkan sejumlah catatan penting. Pada edisi 2002, Hakan Sukur mencetak gol ke gawang Korea Selatan dalam 11 detik.
Gol itu sampai sekarang masih menjadi gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia. Catatan lain datang dari Just Fontaine pada Piala Dunia 1958.
Penyerang Prancis itu mencetak empat gol saat mengalahkan Jerman Barat 6-3. Torehan tersebut membuat Fontaine menutup turnamen dengan 13 gol.
Jumlah itu masih menjadi rekor gol terbanyak oleh satu pemain dalam satu edisi Piala Dunia. Laga perebutan tempat ketiga juga kerap memengaruhi persaingan Golden Boot.
Beberapa nama seperti Eusebio pada 1966, Salvatore “Toto” Schillaci pada 1990, Davor Suker pada 1998, dan Thomas Muller pada 2010 menambah gol mereka di laga itu. Mereka kemudian finis sebagai top skor turnamen.
Pada Piala Dunia 2026, laga Prancis melawan Inggris juga menjadi peluang terakhir bagi Kylian Mbappe dan Harry Kane. Keduanya masih bisa menambah gol dalam persaingan Golden Boot.
Euro memilih menghapusnya
Meski punya sejarah panjang, laga perebutan tempat ketiga tetap menuai kritik. The Athletic menyebut Louis van Gaal pernah menilai pertandingan itu tidak perlu dimainkan.
“tidak adil karena tim yang sudah tampil luar biasa sepanjang turnamen berisiko pulang dengan dua kekalahan beruntun setelah gagal di semifinal.”
Gareth Southgate juga pernah menyampaikan pandangan serupa menjelang laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 melawan Belgia. Alan Shearer pun pernah mengkritik pertandingan itu karena dianggap tidak diperlukan.
Berbeda dari FIFA, UEFA menghapus laga perebutan peringkat ketiga mulai Euro 1984. Keputusan itu diambil setelah evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya.
UEFA menilai pertandingan tersebut kurang menarik perhatian penonton. Minat yang rendah dan kelelahan pemain akibat jadwal padat juga menjadi pertimbangan.
Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal Euro langsung mengakhiri turnamen sebagai semifinalis. Tidak ada lagi pertandingan tambahan untuk menentukan posisi ketiga.
Perbedaan ini tetap menjadi ciri khas dua turnamen terbesar sepak bola internasional. Piala Dunia mempertahankannya sebagai tradisi dan bentuk penghargaan, sedangkan Euro fokus pada perebutan gelar juara.
Sumber: ANTARA News
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

