Pembahasan soal gaji pemain Liga Inggris dalam hitungan mingguan kembali ramai pada Selasa, 11 Agustus 2026, dalam laporan ANTARA di Jakarta. Artikel itu menjelaskan bahwa angka gaji per pekan tidak selalu berarti pemain menerima bayaran setiap tujuh hari.
Penyebutan gaji mingguan lebih berkaitan dengan tradisi lama di sepak bola Inggris. Dalam praktiknya, pembayaran gaji tetap mengikuti kesepakatan kontrak antara pemain dan klub.
Karena itu, saat media menulis seorang pemain memperoleh 200 ribu poundsterling per minggu, angka tersebut lebih sering dipakai untuk menggambarkan nilai kontrak. Jadwal pembayaran sebenarnya bisa dilakukan secara bulanan atau lewat skema lain yang disepakati.
Asal-usul tradisi gaji mingguan
Tradisi ini berakar dari Inggris sekitar 140 tahun lalu. Pada masa Revolusi Industri, sepak bola sangat dekat dengan kehidupan kelas pekerja.
Banyak buruh saat itu bekerja enam hari dalam sepekan. Mereka biasanya memiliki waktu luang pada Sabtu sore.
Sabtu lalu menjadi hari yang identik dengan pertandingan sepak bola. Setelah menerima upah, para pekerja bisa datang ke stadion untuk menonton klub kesayangan mereka.
Pada masa itu, sepak bola belum menjadi industri besar. Penghasilan pemain juga belum sebesar era Premier League saat ini.
Pada 1885, The Football Association mulai mengakui status pemain profesional. Sejak saat itu, pemain diperbolehkan menerima bayaran dari klub.
Namun, klub dan otoritas sepak bola Inggris kemudian menerapkan aturan untuk mengendalikan upah pemain. Pada 1901, FA Inggris memberlakukan aturan maximum wage atau batas maksimal gaji.
Saat itu, pemain profesional hanya boleh menerima maksimal £4 per minggu. Aturan itu membatasi kebebasan pemain dalam menentukan nilai ekonominya.
Pada 1950-an, batas tersebut naik menjadi £20 per minggu. Meski begitu, banyak pemain masih harus memiliki pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Peran Jimmy Hill dalam perubahan sistem
Perlawanan terhadap sistem batas gaji kemudian muncul dari kalangan pemain. Salah satu tokoh pentingnya adalah Jimmy Hill, pemain Fulham yang aktif di Professional Footballers’ Association (PFA).
Hill menentang aturan maximum wage. Ia menilai pemain seharusnya berhak menerima bayaran sesuai kemampuan dan nilai mereka.
Pada 1961, batas maksimal gaji akhirnya dihapus. Perubahan itu langsung mengubah peta penghasilan pemain di Inggris.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah rekan Hill di Fulham, Johnny Haynes. Ia disebut menerima gaji sebesar £100 per minggu, angka yang sangat besar pada masa itu.
Sejak penghapusan aturan tersebut, pemain memiliki posisi tawar yang lebih kuat saat bernegosiasi dengan klub. Namun, penyebutan gaji tetap bertahan dalam format mingguan.
Era Premier League mempertahankan istilah lama
Pada 1992, Premier League resmi berdiri dan membawa perubahan besar dalam ekonomi sepak bola Inggris. Pemasukan dari hak siar, sponsor, tiket, dan merchandise membuat kekuatan finansial klub meningkat pesat.
Kenaikan pendapatan klub kemudian diikuti lonjakan gaji pemain. Meski industri berubah total, istilah gaji mingguan tetap terus digunakan dalam pemberitaan.
Cristiano Ronaldo menjadi contoh yang disebut dalam laporan tersebut. Saat kembali ke Manchester United pada 2021, berbagai media melaporkan ia menerima sekitar £385 ribu per minggu.
Jika dikalikan 52 minggu, angka itu setara sekitar £20 juta per tahun sebelum bonus dan komponen kontrak lain dihitung. Namun, hal itu tidak otomatis berarti Ronaldo menerima transfer sebesar £385 ribu setiap tujuh hari.
Angka mingguan dipakai karena lebih mudah dibaca dan dibandingkan. Misalnya, nilai £10,4 juta per tahun akan lebih sederhana ditulis sebagai sekitar £200 ribu per minggu.
Dengan demikian, istilah weekly wage lebih tepat dipahami sebagai cara menghitung nilai gaji. Bukan selalu sebagai jadwal pembayaran gaji pemain.
Sumber: ANTARA
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

