Piala Dunia 1958 di Swedia menjadi salah satu babak penting dalam sejarah sepak bola. Pada turnamen inilah Brasil untuk pertama kalinya mengangkat trofi juara dunia, sementara Pele yang masih berusia 17 tahun mulai mencuri perhatian dunia.
Turnamen keenam Piala Dunia itu diikuti 12 tim Eropa dan empat tim dari Amerika. Tidak ada peserta dari benua lain. Piala Dunia 1958 juga tercatat sebagai edisi pertama yang disiarkan langsung melalui televisi, meski saat itu tayangannya baru bisa dinikmati penonton di negara tuan rumah, Swedia.
Piala Dunia 1958 dan Jalan Unik Wales ke Putaran Final
Salah satu cerita menarik dari Piala Dunia 1958 muncul sejak babak kualifikasi. FIFA saat itu memberlakukan prinsip baru: tidak ada tim yang bisa lolos ke putaran final tanpa memainkan setidaknya satu pertandingan.
Baca juga: Jerman vs Finlandia: Die Mannschaft Menang 4-0 Jelang Piala Dunia
Aturan tersebut muncul karena pada edisi-edisi sebelumnya ada tim yang dapat melaju setelah lawan mereka mengundurkan diri. Situasi serupa hampir terjadi pada Israel, karena sejumlah rival regional menolak bertanding.
Untuk menyelesaikan persoalan itu, FIFA menggelar pertandingan play-off khusus. Wales, yang menjadi tim peringkat kedua di grup kualifikasi Eropa, diikutsertakan untuk memperebutkan tempat tersebut. Wales menang dan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Jalan Wales kemudian membawa mereka bertemu Brasil di perempat final. Pertemuan itu menjadi bagian dari kisah besar yang ikut mengantar Pele masuk ke panggung sejarah Piala Dunia.
Brasil Berubah Setelah Imbang 0-0 Lawan Inggris
Di fase grup, Brasil mencatat hasil yang mengejutkan ketika bermain imbang 0-0 melawan Inggris. Menurut sumber, skor tanpa gol itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia.
Bagi Brasil, hasil tersebut terasa tidak memuaskan. Para pemain yang lekat dengan gagasan sepak bola indah ingin tim tampil lebih berani. Mereka kemudian meyakinkan pelatih Vicente Feola untuk menurunkan komposisi yang mereka inginkan.
Perubahan itu membuat lima pemain yang sebelumnya bukan pilihan utama masuk ke susunan inti. Di antara mereka terdapat dua pemain muda, Pele dan Garrincha. Ada pula Didi, sosok pengatur serangan dari lini belakang.
Sejak perubahan tersebut, Brasil tampil semakin kuat. Sumber menggambarkan permainan mereka begitu mengesankan hingga World Sports dari London menulis bahwa orang harus “menggosok mata” untuk percaya sepak bola seperti itu benar-benar nyata.
Pele Bersinar, Fontaine Cetak Rekor
Perempat final melawan Wales menjadi ujian kesabaran bagi Brasil. Pele mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut. Gol itu membuatnya menjadi pemain termuda yang pernah mencetak gol di Piala Dunia.
Di semifinal, Brasil kembali menunjukkan kekuatannya. Mereka mengalahkan Prancis dengan skor 5-2. Dalam laga itu, Pele mencetak hat-trick dan menjadi pemain termuda yang membuat tiga gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.
Meski kalah dari Brasil di semifinal, Prancis tetap memiliki salah satu kisah besar turnamen lewat Just Fontaine. Penyerang Prancis itu menyelesaikan Piala Dunia 1958 dengan 13 gol. Catatan tersebut disebut sebagai rekor Piala Dunia yang hingga kini belum terpecahkan.
Brasil Kalahkan Swedia di Final Piala Dunia 1958
Final Piala Dunia 1958 berlangsung pada 29 Juni 1958 di Stadion Råsunda, Solna. Laga itu disaksikan hampir 50.000 penonton dan mempertemukan Brasil dengan tuan rumah Swedia.
Swedia sempat unggul lebih dulu lewat gol kapten mereka, Liedholm. Namun Brasil kemudian membalas melalui Vavá, Pele, dan Zagalo. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Brasil 5-2.
Hasil tersebut membuat Brasil meraih gelar Piala Dunia untuk pertama kalinya. Mereka juga menutup turnamen tanpa menelan kekalahan.
Prancis finis di posisi ketiga, sedangkan Jerman Barat berada di urutan keempat. Di daftar pencetak gol, Just Fontaine memimpin dengan 13 gol. Pele dan Helmut Rahn dari Jerman Barat menyusul dengan masing-masing enam gol.
Piala Dunia 1958 akhirnya dikenang sebagai turnamen yang mempertemukan gelar perdana Brasil dengan kemunculan Pele sebagai bintang muda yang mengubah wajah sejarah sepak bola.
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

