Arsenal kehilangan posisi puncak klasemen Liga Inggris pada Kamis, 23 April 2026, setelah Manchester City menang 1-0 atas Burnley. Perubahan itu terjadi dalam persaingan gelar yang kembali menekan tim asuhan Mikel Arteta.
Manchester City kini berada di urutan teratas meski memiliki poin yang sama dengan Arsenal, yakni 70. Kedua tim juga mencatat selisih gol identik, +37.
Pembeda sementara datang dari produktivitas gol. City sudah mencetak 66 gol, sedangkan Arsenal baru mengoleksi 63 gol.
“Set Piece FC”
Perubahan posisi ini kembali memunculkan sorotan terhadap Arsenal. Klub London itu sempat memimpin klasemen sejak 4 Oktober, tetapi kembali tersalip saat musim memasuki fase akhir.
Tanda-tanda penurunan performa Arsenal mulai terlihat sejak awal tahun. Januari dibuka dengan hasil imbang melawan Nottingham Forest dan kekalahan kandang dari Manchester United.
Situasi memburuk pada Februari saat menghadapi Wolves. Dalam pertandingan itu, Arsenal gagal menang meski sempat unggul dua gol dan harus puas dengan skor 2-2.
Hasil tersebut menjadi catatan buruk. Arsenal disebut sebagai tim pemuncak klasemen pertama yang gagal menang setelah unggul dua gol atas tim zona degradasi.
Pada Maret, Arsenal sempat menunjukkan respons positif. Mereka menyapu bersih kemenangan di liga dan terus melaju di Liga Champions.
Namun, kekalahan 0-2 dari Manchester City di final Piala Liga di Wembley disebut menjadi titik balik psikologis. Sejak laga itu, momentum musim Arsenal dinilai berubah.
Setelah jeda internasional, Arsenal kembali terpukul. Mereka tersingkir dari Piala FA setelah kalah 2-1 dari Southampton pada babak perempat final.
Penurunan performa berlanjut pada April. Arsenal kalah 1-2 dari Bournemouth di kandang, padahal hasil itu bisa membawa mereka unggul 12 poin sementara atas City.
Situasi makin berat setelah Arsenal juga kalah 1-2 dari Manchester City di Etihad Stadium. Satu hasil yang sedikit meredakan tekanan adalah kemenangan agregat 1-0 atas Sporting Lisbon di perempat final Liga Champions.
Ketergantungan Bola Mati Jadi Sorotan
Kritik kini mengarah pada pendekatan taktis Mikel Arteta. Arsenal dinilai terlalu pragmatis dan defensif dalam fase penting perburuan gelar.
Fans lawan bahkan melabeli Arsenal sebagai “Set Piece FC” karena ketergantungan mereka pada situasi bola mati. Label itu muncul seiring tingginya kontribusi gol dari sepak pojok dan tendangan bebas.
Arsenal mencatatkan 23 gol dari sepak pojok dan tendangan bebas. Jumlah itu menyumbang lebih dari sepertiga total gol mereka musim ini.
Mereka juga mendapat keuntungan dari empat gol bunuh diri lawan. Semua itu berawal dari tekanan saat situasi tendangan penjuru.
Sebaliknya, Manchester City hanya mencetak 11 gol dari bola mati. Angka itu menempatkan tim asuhan Pep Guardiola di peringkat ke-17 liga untuk statistik tersebut.
Perbedaan itu menegaskan kontras pendekatan dua tim. City tetap mengandalkan permainan terbuka dan variasi serangan, sedangkan Arsenal lebih sering membawa laga ke duel fisik dan struktur pertahanan yang kaku.
Sumber: ANTARA News
Seorang penulis berita olahraga berpengalaman dengan lebih dari lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, khususnya sepak bola Indonesia. Memiliki pemahaman mendalam tentang kompetisi domestik seperti Liga 1 dan Liga 2, serta perkembangan tim nasional Indonesia di berbagai ajang internasional.
Dikenal memiliki gaya penulisan yang cepat, akurat, dan berimbang, serta mampu mengikuti dinamika berita yang bergerak cepat di dunia sepak bola nasional. Selain itu, aktif mengikuti tren dan perkembangan terbaru dalam industri olahraga digital, termasuk media sosial dan platform berita online.

